5 Metode Perawatan Benih

Perlindungan benih – Benih yang disimpan harus diperhatikan dan dirawat dengan baik agar kualitasnya tidak mengalami penurunan selama durasi penyimpanan.

Perawatan benih diberikan segera setelah benih selesai dipanen dan belum disimpan di gudang. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah risiko terjadinya penyakit pada benih. Perawatan benih dapat dilakukan dengan beberapa metode yang berbeda, berikut ini adalah penjelasannya.

Perawatan benih fisik

Metode perawatan benih yang pertama yaitu perawatan secara fisik, dimana metode ini bertujuan untuk memberikan perlindungan benih dengan cara alternatif yang bertujuan untuk menghindari penggunaan bahan kimia karena dampaknya yang buruk terhadap ekosistem dan organisme.

Pada beberapa kasus, agrokimia kurang cocok digunakan karena bersifat merusak tanah, lingkungan, dan makanan manusia serta hewan. Oleh karena itu penting untuk dilakukan investigasi terlebih dahulu terhadap penggunaan metode yang bersifat sustainable seperti metode perawatan benih fisik.

Perawatan dengan air panas

Perawatan benih menggunakan air panas merupakan praktik yang sangat tua untuk mengontrol jumlah penyakit pada benih dengan menggunakan suhu panas yang cukup untuk membunuh organisme namun aman bagi kondisi benih yang terkena.

Metode ini sering digunakan karena sifatnya yang efektif dan juga telah dijadikan sebagai standar metode untuk mengatasi patogen yang lebih ramah lingkungan dan efektif dibandingkan dengan metode secara kimia.

Perawatan penyakit yang disebabkan oleh fungi dan bakteri merupakan contoh dari penerapan perawatan dengan air panas.

Sebelum melakukan perawatan dengan air panas, benih harus diberi perlakuan pendahuluan penghangatan di dalam kantung berpori selama 10 menit pada suhu air 20 derajat Celcius.

Jumlah benih harus cukup agar dapat segera menjadi basah oleh air panas. Pindahkan benih yang telah diberi perlakuan panas pendahuluan ke dalam bak air. Lamanya waktu perawatan juga harus diawasi agar sesuai dengan prosedur yang ada.

Setelah perawatan benih selesai dilakukan, celupkan kantong benih ke dalam air dingin untuk menghentikan proses pemanasan kemudian beberkan benih di atas kain kering untuk mengeringkannya.

Benih yang sudah tua dapat berpotensi mengalami kerusakan jika terkena suhu tinggi. Oleh karena itu, benih-benih sisa yang akan diberi perawatan harus diberi perlakuan pendahuluan dulu untuk menguji kemampuan perkecambahannya untuk menentukan jumlah kerusakan yang terjadi.

Tidak semua jenis benih dapat diberi perlakuan dengan menggunakan air panas. Beberapa jenis benih yang dapat diberi perlakuan dengan air panas yaitu benih padi, tomat, kacang polong, dan milet.

Perawatan panas kering

Metode perawatan benih selanjutnya yaitu dengan menggunakan panas kering atau yang dikenal sebagai solarisasi dimana benih dipanaskan dengan menggunakan iradiasi dari matahari.

Metode ini terkadang diterapkan oleh negara yang beriklim tropis oleh beberapa perusahaan yang berskala kecil saja karena kesulitan pengaplikasiannya pada perusahaan yang membutuhkan kapasitas berskala besar.

Udara panas yang kering digunakan untuk memberikan perlindungan benih dengan cara melindungi benih dari serangga di dalam gudang.

Perawatan panas teraerasi

Perlindungan benih dengan perawatan menggunakan panas teraerasi merupakan hasil pengembangan metode yang dapat mengatasi permasalahan yang terjadi pada perawatan benih dengan menggunakan air panas.

Proses perawatan dengan menggunakan panas terdiri dari dua fase yaitu fase pemanasan dimana benih dipanaskan dalam jangka waktu tertentu dengan udara pada suhu dan humidity tertentu yang baik untuk proses disinfestasi yang diikuti dengan fase kedua yaitu fase pendinginan yang bertujuan untuk menghentikan proses sebelumnya untuk mencegah benih mengalami kerusakan.

Metode ini menggunakan bantuan alat yang telah dikonstruksi untuk mengontrol parameter penting seperti temperatur, kelembaban udara, waktu perawatan, aliran udara, dan durasi pendinginan.

Berdasarkan penelitian dari Weimer pada tahun 1952, metode ini dapat mereduksi infeksi antraknosa pada benih hingga 80% setelah perawatan dengan udara panas selama 7 jam pada suhu 70 derajat Celcius.

Perawatan radiasi

Perlindungan benih dengan perlakuan kimia seperti penggunaan pestisida menghasilkan dampak yang tidak diinginkan seperti adanya racun yang masuk ke dalam sistem tanaman dan lingkungan.

Iradiasi radioaktif memiliki keberhasilan dalam beberapa kasus perawatan benih, namun tidak digunakan secara luas karena berdampak buruk terhadap kematian benih yang terkena.

Beberapa tipe radiasi elektromagnetik seperti sinar gamma, energi elektron tinggi, radiasi ultrasonik, microwave, dan radiasi sinar UV telah digunakan sebagai alternatif perawatan benih untuk mengendalikan infestasi mikroba.